pekerjaan, bukan hanya soal keuangan

9 Apr 2012

Pekerjaan, bukan hanya soal keuangan.

Tulisan ini terinspirasi dari berita yang dimuat di VOA Indonesia pada 2 April 2012 kisah seorang penarik becak di kota New York. Meskipun terkesan sepele, sesungguhnya ada nilai-nilai yang sangat berharga yang dapat dipetik oleh siapa pun yang selama ini terjebak pada kungkungan pekerjaannya. Betapa banyak orang yang bekerja bukan untuk dirinya, tapi untuk memenuhi tuntutan konsumenisme. Membanting tulang siang dan malam hanya agar dipandang bekecukupan, melakukan banyak hal yang tidak sejalan dengan isi hatinya dan tidak jarang banyak juga yang menghalalkan segala macam cara agar tuntutan emosi ekonominya terpenuhi.

seperti pekerjaan yang ditekuni oleh Frankie Lagaretta, sebagaimana yang dimuat dalam berita tersebut bahwa ia sangat menikamati pekerjaannya itu meskipun sebagian orang akan mengatakan bahwa pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang layak. Tapi lihatlah sisi lain dari–pekerjaan yang mungkin disepelekan oleh sebagian orang Indonesiaperkerjaan ini bahkan bisa mendatangkan kehidupan yang bahagia. Selama ini banyak orang terperangkap pada tingkat prestisius sebuah pekerjaan, bekerja demi gengsi dan memuaskan emosi ekonomi. Padahal bekerja bukanlah sekedar mencari uang, bekerja adalah bahagian dari hidup, bekerja adalah memenuhi kebutuhan jasmani dan ruhani sekaligus. Pekerjaan harus bisa mendatangkan perasaan positif yang sesungguhnya, bukan perasaan positif yang menipu. Misal perasaan positif yang menipu adalah perasaan merasa lebih tinggi kedudukannya karena ia bekerja di instansi yang prestisius, padahal ketika ia berada di ruang kerjanya ia selalu menunggu jam pulang. Ironis bukan,pekerjaan yang seharusnya dapat menyehatkan suasana mental kita malah semakin membuat kita merasa tertekan dan digeromboli oleh tuntutan yang menyempitkan ruang mental kita.

Kualitas pekerjaan seseorang tidak hanya ditentukan oleh dimana ia bekerja tetapi juga sejauhmana pekerjaan itu berkontribusi dalam kehidupannya. Positif ataukah negatif. Membuat ia bahagia ataukah tertekan, dinikmati ataukah menjadi beban. Dengan melihat dari sudut ini kita dapat mengetahui mana pekerjaan yang benar-benar pekerjaan anda dan mana yang menjadi kerjaan anda.

Mungkin penghasilan sebagai seorang tukang becak tidak seberapa, jaminan pendapatan juga tidak ada. Namun siapa bilang pekerjaan ini menggambarkan kesulitan hidup, justru kesulitan hidup itu tergambar dari seberapa suka ia terhadap pekerjaannya. Kita boleh bekerja apa dan dimana saja, tapi yang harus diingat adalah apakah pekerjaan ini benar-benar membuat anda bekerja? Dan jika anda tidak bisa menyukai suatu pekerjaan, dan anda tidak bisa melepaskan pekerjaan itu maka carilah sisi kesenangan anda disana. Dengan demikian pekerjaan itu akan membuat anda nyaman, baik dari segi finansial maupun mental anda. Bayangkan saja, jika anda bekerja dengan beban di dalam hati anda selama beberapa tahun, atau bahkan belasan tahun. Berapa besar sudah beban yang harus anda simpan. Maka tidak jarang orang menjadi stress ketika ia mengalami masalah dalam pekerjaannya. Salah satu penyebabnya adalah masalah itu dianggapnya sebagi sebuah beban, bukan sebagai sebuah tantangan yang harus segera diselesaikannya.

Bahkan tukang becak pun dapat menikmati hidup dengan mendayung becak berkeliling kota. Bagaimana dengan orang yang duduk di kursi dan berpakaian rapi ? sudahkah ia menikmati pekerjaannya? Jika belum, mari bertekad mulai hari ini jadikan pekerjaan anda sebagai bagian dari kebahagian hidup anda.


TAGS profesi uang keuangan pekerjaan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive