rokok, antara matapencaharian dan kesehatan

24 Mar 2012

Saya tertarik dengan berita tentang 43 juta anak indonesia terpapar dengan asap rokok yang diterbitkan pada Minggu18 maret 2012 oleh VOA Indonesia. Masalah kesehatan, terutama yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak dalam arti berhubungan dengan pekerjaan khalayak ramai seringkali bersifat dilematis. Di satu sisi persoalan itu berhadapan dengan sesuatu yang sangat vital, yaitu kkesehatan dan di sisi yang lain berkaitan dengan mata pencaharian yang ujung-ujungnya berkaitan dengan hidup juga.
Misalnya saja fatwa MUI yang mengharamkan rokok, fatwa ini mendapat lemparan kontra yang banyak. Banyak pekerja tembakau yang secara tidak langsung meminta lembaga ini meninjau ulang fatwa tersebut. Mereka yang bekerja di ladang-ladang temabakau mengeluh penuruna omset dengan adanya fatwa MUI tersebut. Setelah diserang habis-habisan akhirnya fatwa tersebut hilang bak ditelan bumi. Begitu juga dengan pembatasan terhadap pemasaran rokok , setidaknya aturan tersebut akan mendapat sundulan keras atau bahkan perlawanan halus dari berbagai pihak yang berkepentingan dengan rokok. Bukan saja pada tingkat produsen, boleh jadi pada tingkat penjual pun akan ada perlawanan halus.
Keputusan yang menyangkut hal-hal yang telah mendarah daging dalam masyarakat memang mendapat tantangan yang besar bagi siapa saja yang ingin mengubahnnya. Ketika ada yang ingin membatasi rokok, sadar atau tidak, saat itu siapapn dia, baik pemerintah maupun aparatur mau tidak mau harus berhadapan dengan banyak pihak yang merasa dirugikan dengan adanya aturan tersebut.
Di sisi lain, kesehatan yang merupakan kebutuhan vital setiap orang juga terdesak dengan adanya bahaya rokok . Dengan 220 milyar batang pertahun sudah bisa dipastikan berapa banyak perokok pasif yang menjadi korban dari asap rokok tersebut. Pihak yang akan banyak dirugikan adalah anak-anak dan bayi, dengan perokok aktif yang sangat banyak itu pertumbuhan mereka dapat terganggu, karena bagaimanapun hampir di setiap tempat selalu terdapat asap rokok, terutama di tempat-tempat umum. Selain penyakit yang ditimbulkan oleh rokok, akibat psikologis yaitu ketidaknyamanan juga seringkali hinggap ketika kita berpapasan dengan para perokok, setidaknya itulah yang saya rasakan. Apalagi ketika berada dalam ruang yang tertutup, suasana tidak nyaman itu semakin diperparah dengan sikap para perokok yang seakan-akan masa bodoh dengan orang lain, Belum lagi akibat buruk bagi kesehatan. Kalau pun orang Indonesia belum sehat semua, setidaknya jangan tambahi penyakit mereka.
Mungkin banyak juga yang tidak begitu peduli dengan bahaya rokok karena memang rokok sudah begitu akrab dengan kita. Sejak kecil kita sudah sering berkenalan dengan rokok, bahkan ada yang masih berumur dibawah 10 tahun sudah merokok. Saya sendiri sering tergidik ketika menyaksikan anak-anak SD yang memegang puting yang mengeluarkan asap tersebut. Seakan-akan rokok telah menjadi obat di berbagai kalangan. Tidak jarang juga rokok menjadi label kedewasaan seseorang dan luas pergaulannya. Seringkali anak-anak terjebak dengan anggapan ini, sehingga mereka merasa perlu untuk mengkonsumsinya. Oleh karena itu, keputusan apapun yang diambil oleh pemerintah, keputusan itu harus ditinjau dari bebagai sudut pandang. Bukan hanya hasil keputusan yang baik bagi semua pihak, tetapi yang juga harus diinggat adalah bagaimana keputusan itu menyelesaikan persoalan ini secara efektif.
Ada dilema yang sangat besar disini, bila rokok dikurangi berarti memperbaiki kondisi kesehatan rakyat, tapi menambah penganguran yang ujung-ujungnya dengan bertambahnya pengangguran maka taraf hidup masyarakat menurun. Ketika menurun, dengan harga sehat yang mahal maka mau tidak mau berkurang juga kemapuan rakyat untuk berobat. Muaranya tetap sakit juga, mungkin itu adalah salah satu pembelaan bagi pihak yang pro kepada rokok.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive