persepsi

23 Feb 2012

Memahami persepsi salah satu kunci memahami orang lain
Persepsi erat sekali ikatannya dengan cara kita menilik sebuah masalah maupun cara kita memandang orang lain. Bagi saya, persepsi adalah menempatkan suatu kondisi eksternal kedalam posisi psikologis. Inilah yang akan sangat mempengaruhi kita dalam menilai suatu kondisi eksternal lingkungan kita. Pengertian eksternal disini juga menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan diri kita sendiri seperti keadaan mental kita, atau bisa dikatakan sesuatu yang berada diluar pikiran kita. Kita tidak benar-benar menyentuh dunia luar, keterbatasanlah yanng menyebabkan kita tidak dapat mengenali dunia luar secara langsung. Kita selalu membutuhkan perantara antara dunia luar dengan dunia dalam kita. Pancaindera merupakan salahsatu alat yang membantu kita dalam mengenali dunia luar itu. Namun, pancaindera tidk bekerja sendiri dlam memahami dunia luar, ia dibantu oleh persepsi. Persepsilah yang sering menginterpretasikan ransangan-ransangan dari dunia luar. Misalnya, saat kita memandang rel kereta api yang lurus kita akan melihat bahwa pada satu titik rel itu terlihat bersatu atau menuju satu titik. Seolah-olah rel yang sepasang itu telah menyatu satu sama lainnya di kejauhan sana. Apakah itu kondisi yang sebenarnnya dari rel tersebut? Untuk mengetahui jawabannya silahkan cek saja ke ujung rel yag terlihat menyatu tersebut. Dalam hal ini, antara alat pancaindera berupa mata dan dunia dalam kita telah mengalami sebuah penafsiran yang keliru yang diakibatkan oleh keterbatasan pancaindera itu sendiri. Akibatnya, persepsi yang dihasilkan adalah persepsi yang keliru pula.
Kasus yang diatas berkaitan dengan pengamatan kita terhadap benda fisik yang kita sadari bahwa semua kekekliruan itu terjadi diakibatkan oleh keterbatasan alat indera itu sendiri. Lalu bagaimana halnya dengan pandangan kita terhadap sesutau yang selain benda fisik? Dalam hal ini misalnya cara pandang kita terhadap orang lain. Menurut saya, itu semua berkaitan dengan persepsi kita terhadap dunia luar.kadangkal, tanpa melihat kebenaran kita telah memberikan penilain terhadap orang lain. Seringkali kita terjebak pada pengalaman-pengalaman yang sebelumnya yang telah mengisi dunia dalam kita dengan pesepsi yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang kita hadapi hari ini. Sering pula tanpa disadari kita telah memberikan penilain negatif terhadap orang lain tanpa alasan yang jelas. Persepsi yang telah tertanam kuat yan sebelumnya ada dalam dunia dalam kita sangat mempenagruhi sampai-sampai kita tidak l;agi memandang sesuatu secara objektif, apa adanya.
Tidak jarang pula, persepsi kita sering kali keliru karena persoalan seperti yang diatas. Kita tiba-tiba saja mengecap orang yang jalannya seolah-olah kakinya diseret dengan penilain bahwa orang itu bersifat pemalas. Tanpa kita sadari kita telah memberikan penilain kita berdasarkan pengetahuan dan pengalaman kita ssebelumnya. Alih-alih, ternyata kita mendapai orang tersebut sangat rajin, di saat itulah kita baru menyadari bahwa penilaian kita selama ini ternyata telah keliru. Meskipun demiakian, terkadang fakta yang telah kita temukan tersebut tidak jarang pula disangkal oleh dirikita karena dirikita mendapati persepsi tersebut tidak sesuai dengan pesepsi selama ini. Bagi saya, persepsi itu juga bersifat ego. Dia ingin memenangkan pertarungan yang jelas-jelas dimenangkan oleh fakta, tapi berkat ego tersebut kita akan mencari celah untuk meruntuhkan fakta tadi. Caranya ialah dengan mencari cari kesalahan dan alasan yang lainnya. Bisa saja pokiran kita akan mengarahkan bahwa sifat rajinnya itu karena di sana ada mertuanya atau orang-orang yang ingin melihat dirinya sebagi orang yang bisa diandalkan. Disini terlihat bahwa perspesi yang keliru dapat menjadi mata rantai kekeliruan pandangan-pandangan kita terhadap hal-hal yang lainnya. Disini ada jalinan persepsi yang saling berkaitan.

Oleh karena itu, atau sebaiknya kita tidak terlalu terikat dengan persepsi-persepsi yang sebelumnya itu. Kita harus bebas dari persepsi yag menjebak. Prasangka negatif, kesan pertama, hubungan sosial kita berkaitan erat dengan ke-persepsian. Selama kita mengikat diri kita pada persepsi-persepsi yang sebelumnya berarti kita membuka peluang bagi miskinnya sudut pandnag kita terhadap dunia luar. Orang yang miskin sudut pandangnya sring kali tersandung batu besar ketika mendapati bahwa tidak selamanya dunia luar itu seperti apa yag ada dalam dunia dalamnya. Seperti anak-anak yang pada akhirnya mendapati bahwa dunia imajinasinya ternyata tidak benar-benar ada dalam dunia nyata ini. Jadi, cobalah perkaya sudut pandang anda dengan tidak mengikat sudut pandang anda denngan persepsi sebelumnya. Saya katakan, jangan mengikatnya, jika bersentuhan boleh. Kemudian, cobalah melatih penilaian objektif kita dan menerima kemajemukan apapun. Dengan demikian kita menambah cara pandang kita dan boleh jadi kita akan menemukan sisi baru yag selama ini tertutup oleh persepsi kita yang monoton itu.
gunakanlah lebih dari satu teropong agar anda dapat melihat bintang yang berbeda-beda meskipun bintang itu satu.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive